SSILA

ESG dan Masa Depan Bisnis: Ketika Tren Menjadi Kebutuhan

Akhir-akhir ini Environmental, Social and Governance atau istilah yang lebih sering disebut ESG semakin sering muncul dan diperbincangkan dalam dunia bisnis. Sederhananya, ESG menjadi cara pandang perusahaan dalam menilai arah strategi bisnisnya. Perusahaan tidak sebatas mengejar profit, melainkan memikirkan dampak operasionalnya terhadap aspek lingkungan, masyarakat, dan tata kelola perusahaan. Sebelumnya, ESG dinilai sebagai aspek tambahan yang tidak difikirkan dalam keberlanjutan bisnis, namun saat ini ESG menjadi penentu utama masa depan perusahaan.

ESG Sebagai Pilar Masa Depan Bisnis

Perkembangan ESG kini lebih dari sekadar alat ukur investasi, melainkan menjadi strategi yang dipilih oleh perusahaan. Banyak organisasi, termasuk bisnis, mulai mengintegrasikan ESG sebagai model bisnis dalam menciptakan dampak jangka panjang bagi seluruh stakeholder. Dalam menjawab tantangan ketidakpastian global, integrasi ESG membantu perusahaan tetap stabil dan bertahan. Dalam praktiknya, ESG berdasarkan aspek lingkungan (Environmental) meliputi efisiensi energi hingga pengurangan emisi karbon, aspek sosial (Social) mencakup kesejahteraan karyawan dan pembangunan sumber daya di masyarakat serta aspek tata kelola (Governance) yang mengatur transparansi dan etika bisnis.

Ke mana arah masa depan ESG?

Masa depan ESG diproyeksikan mengikuti sejumlah tren signifikan. Berikut 4 kunci arah perkembangan ESG dimasa depan :

  1. ESG Sebagai Standar Global

ESG bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan strategis dalam bisnis modern. Dalam regulasi global, yang tertulis dalam Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD),Uni Eropa mewajibkan perusahaan besar seperti perusahaan yang memiliki lebih dari 250 karyawan atau omzet di atas €40 juta atau total aset di atas €20 juta untuk menyusun laporan ESG (European Commission,2023). Sementara itu, dalam International Sustainability Standards Board ISSB mengeluarkan standar Global IFRS S1 dan S2 untuk pelaporan keberlanjutan dan iklim IFRS Foundation (2023), ISSB Standards Launch.

Di Indonesia, penerapan ESG dilakukan secara bertahap di bawah naungan Otoritas Jasa Keuangan dalam menyelaraskan pelaporan keberlanjutan berdasarkan standar global hasil dari pengadopsian International Financial Reporting Standards (IFRS) Sustainability 1 (S1) dan Sustainability 2 (S2) menjadi Pernyataan Standar Pelaporan Keberlanjutan (PSPK 1) dan Pernyataan Standar Pelaporan Keberlanjutan (PSPK 2). PSPK 1 mengatur aturan umum laporan keberlanjutan yang mencakup pelaksanaan ESG secara rinci, menghubungkan isu keberlanjutan dengan kinerja keuangan perusahaan, termasuk isu material, risiko dan peluang ESG, dan konsistensi pelaporannya. Sedangkan PSPK 2 membahas lebih rinci tentang perubahan iklim, seperti risiko dan peluang, strategi perusahaan dalam menghadapi iklim, misalnya emisi gas rumah kaca (GHG) dan target pengurangan emisi. (Haq, 2025).

  1. Suara Konsumen yang Membentuk Pasar

Konsumen kini lebih selektif. Mereka tidak hanya melihat apakah produk itu baik, melainkan apa-apa di baliknya. Pernyataan tersebut persis dengan apakah perusahaan ini ramah lingkungan? Atau pertanyaan yang menyangkut personalia seperti apakah perusahaan ini memperlakukan karyawannya dengan baik? Atau apakah perusahaan memperlakukan stakeholder dengan baik? Pernyataan tersebut selaras dengan praktik perusahaan-perusahaan di Indonesia, seperti PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), yang menerapkan prinsip ESG dengan cara pengelolaan limbah dan pelibatan karyawan dalam aksi lingkungan. Program Jamkrindo mencakup pengelolaan limbah botol plastik yang melibatkan aksi ramah lingkungan bersama karyawan dalam bijak menggunakan botol plastik. Tujuannya, mencapai pertumbuhan bisnis berkelanjutan sekaligus menjaga lingkungan.

Hal serupa juga dilakukan oleh perusahaan startup Aruna yang berkontribusi pada kesejahteraan nelayan lokal dengan cara memperluas akses pasar Aruna (2023). Program Aruna sejalan dengan prinsip ESG, seperti menghubungkan nelayan lokal dengan pasar global, yang membantu 26.000 nelayan di 75 lokasi di Indonesia. Dampaknya meningkatkan pendapatan nelayan dan mendorong ekonomi global. Hal tersebut menunjukkan bahwa suara konsumen tidak sebatas menilai kualitas produk, melainkan kontribusi perusahaan terhadap nilai sosial dan lingkungan.

  1. Kontribusi ESG terhadap Stabilitas dan Keamanan Korporasi

Sejauh ini, praktik ESG membantu perusahaan menjadi lebih aman karena menerapkan strategi keberlangsungan bisnisnya seperti risiko lingkungan (polusi dan perubahan iklim), risiko sosial (konflik tenaga kerja) dan risiko tata kelola (korupsi dan transparansi). Dengan menerapkan konsistensi praktik ESG, secara otomatis perusahaan telah meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi, memperkuat reputasi, dan membangun kepercayaan stakeholder maupun shareholder sehingga menjaga stabilitas perusahaan jangka panjang. Penelitian McKinsey & Company (2021) menunjukkan bahwa perusahaan dengan kinerja ESG yang baik cenderung lebih tangguh dan memiliki risiko finansial lebih rendah daripada perusahaan yang mengabaikannya. (Agisti et al., 2025).

  1. Peran Teknologi dalam Mendorong Praktik ESG yang Berkelanjutan

Perkembangan teknologi memiliki peran tersendiri dalam mendukung implementasi ESG. Menurut World Economic Forum (2021), digitalisasi dan teknologi merupakan kunci dalam mempercepat implementasi ESG secara efektif dan akuntabel. Didukung oleh basis data, perusahaan dapat memantau emisi karbon dan dampak lingkungannya secara real time, sedangkan teknologi AI membantu menganalisis peluang dan risiko secara detail. Selain itu, sistem pelaporan digital juga memudahkan perusahaan dalam menyusun laporan lebih tersruktur sesuai dengan standar penilaian global. Cui, J (2025).

Di masa depan, penerapan ESG tidak lagi dinilai sukarela. Pergeseran nilai ini membawa ESG sebagai arah keberlanjutan bisnis yang lebih baik. Regulasi pemerintah dan tekanan investor serta penilaian dari konsumen mendorong perusahaan untuk memenuhi standar kewajiban yang lebih kompleks, utamanya dalam aspek lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola. Masa depan ESG menunjukkan keunggulan perusahaan dalam menjalankan inti bisnis yang lebih kompetitif dari sisi finansial, reputasi, dan jangka panjang. Sebaliknya, perusahaan yang abai terhadap tanggung jawab ESG berisiko tertinggal dalam persaingan global yang semakin menuntut tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Referensi

Agisti, C. A., Widyaningsih, A., & Rozali, R. D. Y. (2025). Penerapan environmental, social, dan governance (ESG) terhadap kinerja perusahaan: Sebuah tinjauan literatur. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 10(3), 555–572.

Aruna. (2023). Sustainability and ESG practices in fisheries sector. Diakses dari https://aruna.id

Cui, J. (2025). Empirical analysis of digital innovations impact on corporate ESG performance: The mediating role of GAI technology

PT Jaminan Kredit Indonesia. (2023). Jamkrindo dorong keterlibatan karyawan dalam penerapan prinsip ESG. Diakses dari https://jamkrindo.co.id/blog/

read/1174/jamkrindo-dorong-keterlibatan-karyawan-dalam-penerapan-pr insip-esg

McKinsey & Company. (2019). Five ways that ESG creates value. https://www.mckinsey.com/business-functions/strategy-and-corporate-fi nance/our-insights/five-ways-that-esg-creates-value

World Economic Forum. (2021). Harnessing technology for sustainable development. https://www.weforum.org/

Haq, N. (2025, Maret 27). Penerapan ESG dalam dunia bisnis era modern. PratamaInstitute.https://pratamainstitute.com/artikel/penerapan-esg-dala m- dunia-bisnis-era-modern

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *