Skip to main content

SSILA

Keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat tidak sebatas pada penilaian keberhasilan pada aspek ekonomi dan kelestarian lingkungan semata. Lebih dari itu, aspek sosial dan kesejahteraan merupakan bagian yang penting dalam mengukur keberlanjutan program. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Sustainable Compass atau Kompas Keberlanjutan. Kompas keberlanjutan memandang keberlanjutan melalui empat dimensi utama, yaitu Nature, Economy, Society, dan Well-being (Compass Education, n.d.). Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, pendekatan ini digunakan untuk mengukur keberhasilan program berdasarkan jumlah kegiatan, jumlah peserta, peningkatan pendapatan, dan evaluasi kegiatan.

  1.  Aspek Sosial dalam Keberlanjutan

Aspek sosial merupakan salah satu bagian penting dalam keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Arnstein (1968) melalui konsep A Ladder of Citizen Participation menjelaskan bahwa partisipasi memiliki tingkatan berbeda berdasarkan seberapa besar kekuasaan masyarakat dalam menentukan keputusan. Dalam konteks kompas keberlanjutan, aspek sosial digunakan untuk melihat seberapa kuat masyarakat sebagai sebuah komunitas, bukan melihat seberapa besar manfaat ekonomi yang diperoleh. Dengan demikian, keberhasilan program dapat dilihat dari tingkat partisipasi, kapasitas kelompok, kelembagaan, jejaring, inklusi dan kemampuan masyarakat menjalankan tindakan kolektif. Sejalan dengan pernyataan World Bank mengenai community-driven development yang memperkuat pemberdayaan melalui modal sosial melalui jejaring sosial yang dapat memfasilitasi tindakan kolektif dan meningkatkan kemampuan masyarakat.

  1. Well-Being sebagai Indikator Dampak Program

Salah satu aspek penilaian keberhasilan dan dampak suatu program pemberdayaan masyarakat diukur melalui indikator kesejahteraan atau well being. Keberhasilan program tidak terlepas dari terlaksananya kegiatan, jumlah peserta, peningkatan kapasitas, atau terbentuknya kelembagaan masyarakat, melainkan dilihat dari sejauh mana program tersebut memberikan dampak positif terhadap kualitas masyarakat. Dalam kerangka kesejahteraan yang dikemukakan oleh OECD (2024), konsep ini bersifat multidimensional yang mencakup kondisi material, kualitas hidup, hubungan sosial, serta aspek lingkungan.

Selaras dengan pemikiran Amartya Sen melalui Capability Approach yang menjelaskan bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki seseorang, melainkan oleh kemampuan dan kebebasan dalam mencapai kondisi kehidupan yang mereka nilai berharga. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, pendekatan tersebut tidak hanya memberikan fasilitas, melainkan membuka kesempatan, kemampuan dan pilihan bagi masyarakat dalam meningkatkan kehidupannya. Dengan demikian, aspek well-being tidak sebatas diartikan sebagai peningkatan pendapatan, melainkan bagaimana masyarakat menjalankan hidupnya dengan lebih baik.

  1.  Perbedaan Aspek Sosial dan Well-Being

Aspek sosial (society) dan well-being merupakan dua konsep yang saling berkaitan meskipun memiliki fokus yang berbeda. Aspek sosial cenderung menekankan pada kondisi hubungan, interaksi, kelembagaan, partisipasi dan kapasitas kolektif masyarakat. Sementara itu, well-being lebih fokus pada kondisi kehidupan dan kualitas hidup yang dialami individu maupun masyarakat yang ditimbulkan oleh kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Berdasarkan penjelasan dari OECD, aspek society dan well-being menempatkan social connections dan civic engagement sebagai dimensi well-being. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan sosial merupakan bagian dari well-being, sedangkan well-being memiliki cakupan yang lebih luas. Berikut gambaran perbedaan aspek society dan well-being:

Aspek Society/ Aspek Sosial Well Being
Fokus Utama Hubungan dan sistem sosial Kondisi dan kualitas kehidupan
Sasaran Kelompok dan komunitas Individu, rumah tangga dan komunitas
Pertanyaan Utama Bagaimana masyarakat berinteraksi dan bekerja sama? Apakah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik?
Orientasi Proses, relasi, kelembagaan dan kapasitas kolektif Hasil atau kondisi kehidupan
Indikator Partisipasi, kepercayaan, kerja sama, kelembagaan dan jejaring Pendapatan, kesehatan, keamanan, kepuasan hidup, kualitas lingkungan, keterampilan
Contoh Kelompok semakin solid dan mampu mengambil keputusan bersama Masyarakat lebih sejahtera, sehat, aman, mandiri dan puas terhadap kehidupannya
Gambaran Perubahan Lebih banyak menggambarkan perubahan kolektif Menggambarkan perubahan kualitas hidup

Mengukur Keberlanjutan Program Pemberdayaan

Keberlanjutan merupakan salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam mengevaluasi keberhasilan program pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan program tidak sebatas kegiatan terlaksana atau rencana jangka pendek telah tercapai, melainkan program keberlanjutan dilihat dari sejauh mana manfaat program dapat dipertahankan dan terus membawa manfaat bagi masyarakat bahkan setelah intervensi awal berkurang atau berakhir. Dalam perspektif Sustainability Compass, pengukuran tersebut dapat menghubungkan Society sebagai kapasitas dan kondisi sosial masyarakat dengan well-being sebagai standar kualitas kehidupan. Program yang berkelanjutan bukan lagi di sebut dengan program yang terus berjalan, melainkan program yang mampu membangun kapasitas, kemandirian, ketahanan dan manfaat yang tetap di rasakan oleh masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Dengan demikian, pendekatan tersebut dapat digunakan oleh perusahaan, pemerintah, dan masyarakat untuk mengetahui seberapa besar hasil dan manfaat yang dimiliki untuk bertahan dan berkembang di masa mendatang.

Sustainability Compass memberikan kerangka komprehensif untuk menilai keberlanjutan pemberdayaan masyarakat melalui empat dimensi, yaitu Nature, Economy, Society dan Well-being. Dalam konteks ini, society berfokus pada partisipasi, kerja sama, kelembagaan, inklusi dan kapasitas kolektif masyarakat. Sedangkan well-being menilai perubahan berdasarkan kualitas kehidupan, antara lain kondisi ekonomi, kesehatan, keamanan, keterampilan, dan kemandirian. Kedua konsep yang telah disebutkan masing-masing memiliki keterkaitan dalam menciptakan keberlanjutan program, mempertahankan manfaat, mendorong kemandirian dan mengembangkan program jangka panjang. Mari terapkan Sustainability Compass untuk membangun program pemberdayaan yang lebih berkelanjutan dan berdampak.

Referensi:

Arnstein, S. R. (1969). A ladder of citizen participation. Journal of the American Institute of Planners, 35(4), 216–224.

World Bank. (2004). Participation, community, and social capital. The World Bank Research Observer, 19 (1).

OECD. (2024). How’s life? 2024: Well-being and resilience in times of crisis. OECD Publishing.

Sen, A. (1999). Development as freedom. Oxford University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *