Skip to main content

SSILA

Co-Creation sebagai Kunci Inovasi Sosial: Menciptakan Solusi Bersama Komunitas

Berbagai persoalan yang melingkupi kehidupan sosial masyarakat pada dasarnya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kemiskinan, kualitas Kesehatan, pengelolaan lingkungan, serta pembangunan desa yang berkelanjutan. Beragam permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan top-down yang dilakukan oleh pemerintah atau institusi tertentu. Masyarakat sebagai pihak yang mengalami secara langsung berbagai tentang tersebut memiliki pengetahuan, pengalaman, serta pemahaman yang mendalam mengenai kebutuhan dan potensi yang ada di lingkungannya. Oleh karena itu, melibatkan komunitas dalam pendekatan pembangunan menjadi sebuah strategi dalam menghasilkan solusi yang tepat sasaran. Dalam konteks ini, inovasi sosial hadir melalui proses penciptaan bersama (co-creation), yaitu kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, sektor swasta dan pemangku kepentingan

Menurut John Kretzmann dan John McKnight (1993), Asset-Based Community Development (ABCD) merupakan sebuah solusi paling efektif yang berasal dari aset, kapasitas dan kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat, bukan dari bantuan pihak eksternal. Dalam pendekatan ini, keterlibatan komunitas harus diposisikan sebagai tokoh utama dalam melakukan identifikasi masalah dan pemecahan solusi. Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Paulo Freire (1970), yang menekankan pada pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses perubahan sosial. Menurut Freire, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat saja, namun sekaligus berpartisipasi aktif dalam melakukan perancangan dan pemecahan solusi permasalahan. Selain itu, UNDP secara konsisten mendorong pendekatan berbasis komunitas yang menyatakan pelibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, impementasi dan evaluasi program dalam meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan pembangunan. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa community based solution merupakan pendekatan dalam resolusi konflik yang menempatkan masyarakat sebagai tokoh utama. Peran masyarakat dalam pembangunan mencakup pemanfaatan aset lokal, peningkatan partisipasi dan penguatan modal sosial.

Mengapa Keterlibatan Komunitas itu Penting?

Keterlibatan komunitas merupakan salah satu elemen penting dalam menciptakan inovasi yang relevan dan berkelanjutan. Melalui partisipasi aktif dari masyarakat maupun organisasi yang dinilai mampu memahami kebutuhan, aspirasi, serta tantangan yang dihadapi secara langsung sehingga mampu mendatangkan solusi yang mudah diterima komunitas dan berdampak nyata.

  1. Meningkatkan Relevansi Program

Keterlibatan komunitas dalam merancang program CSR memungkinkan perusahaan memahami kebutuhan, potensi dan permasalahan riil yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, program yang disusun tidak didasarkan pada asumsi perusahaan, melainkan pada kondisi dan kebutuhan nyata di lapangan. Salah satu contoh program yang dijalankan oleh PT Pertamina (Persero) dalam program Desa Berdikari melibatkan masyarakat dalam melakukan pemetaan potensi desa dalam menentukan bantuan yang akan diberikan dalam program CSR. Di wilayah Pesisir, misalnya, program difokuskan pada pengembangan usaha perikanan dan olahan laut berdasarkan komoditas utama masyarakat nelayan yang berada di wilayah tersebut.

  1. Membangun Rasa Memiliki (Sense of Ownership)

Melibatkan masyarakat sejak tahap perencanaan hingga proses akhir suatu program dapat menumbuhkan rasa memiliki (sense of ownership) terhadap program yang dijalankan. Rasa memiliki tersebut mendorong masyarakat untuk menjaga, mengembangkan dan melanjutkan program secara mandiri hingga dukungan yang diberikan pihak eksternal (perusahaan atau institusi lain) sudah berakhir. PT Unilever Indonesia Tbk., melalui program pengelolaan bank sampah di berbagai titik wilayah pengembangan, tidak hanya fokus pada penyediaan fasilitas, tetapi juga melibatkan kelompok warga dalam mengelola operasional, penyusunan aturan, dan pengembangan usaha daur ulang.

  1. Memperkuat Modal Sosial

Modal sosial merupakan jaringan hubungan, kepercayaan, norma, dan kerja sama yang memungkinkan masyarakat berpartisipasi aktif dalam mencapai tujuan bersama.  Dalam konteks CSR, modal sosial mampu memperkuat hubungan antarwarga masyarakat, masyarakat dengan pemerintah dan masyarakat dengan perusahaan. Menurut Robert D. Putnam (2000), modal sosial merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan yang ditandai oleh meningkatnya kepercayaan, partisipasi, dan kolaborasi dalam masyarakat. Hal ini selaras dengan praktik CSR program Kampung Iklim (Proklim) dari berbagai perusahaan seperti PT PLN (Persero) dan PT Pupuk Kalimantan Timur yang mendorong warga untuk bergotong royong dalam penghijauan, pengelolaan sampah, konservasi air dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Lalu, Langkah Apa Saja untuk Menciptakan Solusi bersama Komunitas?

Pelibatan komunitas dalam menciptakan solusi dapat dilakukan dalam beberapa langkah-langkah berikut:

  1. Identifikasi Masalah dan Kebutuhan Komunitas

Tahap awal yang dapat dilakukan dalam pelibatan komunitas yaitu melakukan identifikasi masalah dan pemetaan kebutuhan. Pada tahap ini, pihak yang dilibatkan adalah perusahaan, pemerintah, dan instansi terkait dalam menawarkan solusi dan dialog bersama masyarakat berdasarkan permasalahan dan harapan yang akan dicapai. Identifikasi dapat dilakukan dalam berbagai skema, di antaranya survei lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat, Focus Group Discussion (FGD), maupun musyawarah.

  1. Memetakan Potensi dan Kebutuhan Komunitas

Tahap berikutnya adalah melakukan identifikasi masalah di mana pada bagian ini identifikasi yang dilakukan mencakup akses yang dimiliki masyarakat berdasarkan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD), antara lain: keterampilan individu, kelompok atau organisasi masyarakat, sumber daya alam, infrastruktur lokal, jaringan sosial, pengetahuan, serta keragaman budaya setempat.

  1. Menentukan Prioritas Bersama

Dalam upaya penyelesaian masalah, perlu menentukan prioritas berdasarkan tingkat urgensi, manfaat, dan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat dan wilayah tersebut. Robert Chambers (1997) mengatakan bahwa proses pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif mampu meningkatkan legitimasi dan penerimaan masyarakat terhadap program yang dilaksanakan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam menentukan prioritas bersama antara lain musyawarah, pemeringkatan masalah, analisis prioritas, dan perumusan tujuan bersama.

  1. Merancang Solusi secara Partisipatif

Pada tahap ini masyarakat bersama dengan pemangku kepentingan, perusahaan dan pemerintah setempat merumuskan rencana kegiatan yang berisi tujuan, sasaran penerima manfaat, pembagian peran, jadwal pelaksanaan, sumber daya yang dibutuhkan dan indikator keberhasilan.

  1. Melaksanakan Program Bersama

Pada tahap ini, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah masing-masing berperan sebagaimana kewenangannya. Masyarakat adalah aktor utama dalam pembangunan. Menurut Mathie dan Cunningham (2003), pembangunan yang digerakkan masyarakat lebih efektif ketika ditempatkan sebagai aktor utama dalam pelaksanaan kegiatan. Sedangkan perusahaan berperan sebagai fasilitator program. Begitu pula pemerintah yang menerapkan regulasi dan memiliki otoritas penuh dalam roda pemerintahan. Kegiatan yang dapat dilaksanakan pada tahapan ini di antaranya pelatihan, pendampingan usaha, pembentukan kelompok kerja, pengembangan produk UMKM, pengelolaan fasilitas pendukung, dan sebagainya.

  1. Monitoring dan Evaluasi Partisipatif

Tahap ini dilakukan untuk menilai seberapa efektif program berjalan berdasarkan perencanaan dan tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya melakukan evaluasi berkala, pengukuran indikator keberhasilan berdasarkan checklist, melakukan survei kepuasan masyarakat, dan mengidentifikasi kendala dan solusi berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan.

  1. Menjaga Keberlanjutan Program

Tahap terakhir yang dilakukan adalah memastikan keberlanjutan program tetap berjalan meskipun dukungan dari pihak eksternal atau lembaga donor sudah berkurang, bahkan berakhir. Kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya penguatan kelembagaan dan kapasitas masyarakat, pengembangan leadership (local hero), peningkatan jejaring dalam mendukung sumber pendanaan serta menjalin kemitraan yang lebih luas baik dengan pemerintahan maupun organisasi yang menaungi program pemberdayaan masyarakat.

Inovasi sosial yang berkelanjutan lahir ketika masyarakat tidak sebatas ditempatkan sebagai penerima manfaat, melainkan dilibatkan dalam setiap proses pembangunan. Identifikasi masalah, merancang solusi, pelaksanaan hingga evaluasi program. Melalui pendekatan Community-Driven Solution, pembangunan mampu menciptakan pembangunan yang lebih relevan, menumbuhkan rasa memiliki dan memperkuat modal sosial dalam mendorong keberlanjutan dan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat setempat. Mari jadikan masyarakat sebagai mitra utama dalam setiap program pembangunan dan CSR yang berdampak.

Referensi

Chambers, R. (1997). Whose reality counts? Putting the first last. Intermediate Technology Publications.

Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed (trans. MB Ramos). New York: Continuum2005.

John P. Kretzmann, J. P., & John L. McKnight, J. L. (1993). Building communities from the inside out: A path toward finding and mobilizing a community’s assets. ACTA Publications.

Mathie, A., & Cunningham, G. (2003). From clients to citizens: Asset-based community development as a strategy for community-driven development. Development in Practice, 13 (5), 474–486.

Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon Schuster.

 United Nations Development Programme. Evaluation Office. (2002). Handbook on monitoring and evaluating for results. Evaluation Office.

United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development. United Nations. https://sdgs.un.org/2030 agenda

 

Bagikan artikel ini:

Artikel Terkait