Pemberdayaan masyarakat bukan sekedar menghadirkan sebuah program, melainkan mendorong bagaimana sebuah perubahan dapat terus di bangun, tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang. Dibalik keberlanjutan tersebut terdapat sosok penggerak dari elemen masyarakat yang disebut sebagai Local hero yang menjadi pendorong perubahan dan mengajak komunitas untuk bergerak. Walaupun demikian, perjalanan menuju kemandirian tidak selalu berjalan lancar, adakalanya program memasuki fase kritis yang membutuhkan peran local hero untuk menjaga semangat, menguatkan kapasitas masyarakat dan memastikan berbagai inisitaif yang dapat ditingkatkan dalam mendukung perubahan yang lebih baik.
1. Peran Local Hero dalam Pemberdayaan
Pemberdayaan masyarakat pada hakikatnya tidak sebatas bergantung pada adanya program, pemberian bantuan, pendampingan yang diberikan dan keterlibatan pihak-pihak terkait. Kehadiran sosok penggerak dalam komunitas mendorong perubahan penting dalam memberikan perubahan yang mampu diterima, dijalankan dan dikembangkan oleh masyarakat. Sosok penggerak perubahan ini yang dinamakan sebagai local hero. Penelitian Sujatmiko et al (2024) menjelaskan tentang tiga kasus pemberdayaan di Indonesia baik dari individu maupun kelompok yang mampu mendorong perubahan dan menggerakkan masyarakat agar berdaya. Dengan demikian, peran local hero secara mengerucut mengambil peran lebih besar dalam menentukan dan mengembangkan perubahan di lingkungannya. Dalam perannya, local hero menjalankan perannya antara lain:
- Menjadi penggerak dari dalam Komunitas
Salah satu yang menjadi kekuatan local hero dalam menjalankan perannya adalah kemampuan dalam kedekatan dengan masyarakat. Local hero mampu memahami kondisi, kebutuhan, kebiasaan dan tantangan yang dihadapi komunitas secara langsung. Kedekatan tersebut memudahkan proses komunikasi dan membangun kepercayaan sehingga masyarakat lebih mudah terlibat dalam kegiatan pemberdayaan. Riset di kawasan pesisir Semarang menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam proses adaptasi berbasis komunitas dipengaruhi oleh keberadaan local hero Septiarani dan Handayani (2026). Studi tersebut menunjukkan jejaring antara masyarakat dengan pemerintah maupun organisasi non pemerintah menjadi salah satu faktor pendukung keberlanjutan dalam proses pemberdayaan berbasis komunitas.
- Menghubungkan masyarakat dengan berbagai pihak
Peran local hero lainnya adalah semangatnya untuk terus mengajak masyarakat untuk terlibat berbagai kegiatan. Selain itu, local hero juga berperan sebagai penghubung antara komunitas dengan berbagai pemangku kepentingan yang meliputi, pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, maupun institusi lainnya. Dalam penelitian Yuwono dan Putrianti (2022), pengembangan pariwisata berbasis komunitas di kawasan Borobudur mengidentifikasi peran local hero sebagai fasilitator, mediator dan mobilisator bagi masyarakat maupun komunitas. Dengan demikian, peran local hero dapat membantu mempertemukan masyarakat dengan sumber daya dan dukungan dari pihak lain.
- Menumbuhkan kemandirian
Peran local hero lainnya dalam mendukung keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas individu maupun kelompok antara lain, penyebar luasan pengetahuan, mendorong keterlibatan komunitas, menjaga inisiatif dan gagasan dari komunitas tetap terbangun dan berjalan. Keberadaan local hero penting dalam sebuah program sebagai penggerak dalam mendorong pengetahuan, pengalaman dan semangat ketika dukungan dari pihak eksternal mulai berkurang atau sudah tidak ada intervensi yang diberikan kepada kelompok tersebut.
- Dari individu menjadi gerakan bersama
Peran local hero dalam mendukung kebarhasilan pemberdayaan tidak bergantung dengan satu orang, melainkan sebagai pendobrak pintu masuk dalam membangun kepemimpinan bersama, memperkuat jaringan dan mendorong lahirnya regenerasi dalam komunitas. Dengan demikian penguatan local hero harus sejalan dengan penguatan kelompok untuk menciptakan ekosistem ketangguhan di masyarakat dan sekitarnya.
2. Tantangan Local Hero di Fase Kritis
Menjadi seorang local hero tidak hanya berperan dalam memulai perubahan, melainkan perubahan tersebut harus terus berjalan meskipun menghadapi dinamika maupun adaptasi lingkungan yang berubah-rubah. Berbagai fase kritis yang mungkin terjadi sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi local hero antara lain:
Menjaga semangat dan partisipasi masyarakat: tantangan ini sering dihadapi oleh local hero dalam memastikan keterlibatan aktif masyarakat setelah program berjalan dalam waktu tertentu. Dalam konteks tersebut perubahan yang terjadi di masyarakat antara lain menghadapi rutinitas, keterbatasan sumber daya maupun tantangan baru.
Mengurangi ketergantungan pasa satu sosok: keberlanjutan pemberdayaan tidak bergantung dengan satu individu yang menjadi leading bagi setiap kegiatan yang dijalankan. Tantangan dalam fase kritis mampu mengubah peran personal tersebut menjadi kekuatan kolektif yang mambu dijalankan oleh anggota komunitas dalam pembagian peran, transfer pengetahuan dan penguatan kapasitas anggota komunitas.
Memperluas jejaring dan kolaborasi: mempertahankan dan memperluas jejaring merupakan tantangan lain yang dihadapi oleh local hero ketika komunits menghadapi dukungan eksternal yang berkurang. Tantangan tersebut dapat dimitigasi dengan dukungan yang diperoleh dari pemerintah, organisasi masyarakat, dunia usaha maupun pihak eksternal yang mampu memberikan dukungan keberlanjutan bagi komunitas maupun program.
Beradaptasi dengan perubahan: kebutuhan masyarakat, kondisi ekonomi, lingkungan, teknologi dan peluang pasar dapat menjadi tantangan yang terus bergulir dan dinamis. Peran local hero dalam konteks tersebut dalam menghadapi tantangan dalam membantu komunitas beradaptasi tanpa kehilangan tujuan awal pemberdayaan masyarakat. Penelitian Sholeh et al (2025) menyatakan para penggerak local atau local hero daerah berperan dalam mendukung produksi pangan, edukasi, pemasaran produk lokal hingga menjadi katalisator dalam sektor pangan dan pariwisata. Studi tersebut menekankan bahwa kolaborasi dan keterhubungan antar penggerak dapat memperkuat ekosistem lokal.
Membangun regenerasi: peran local hero dalam mendorong perubahan berkelanjutan membutuhkan regenerasi. Local hero mendorong munculnya individu lain yang memiliki kemampuan dan kemauan dalam meneruskan inisiatif dan gagasan yang lahir dari masyarakat maupun komunitas. Dengan demikian, perubahan tidak harus berhenti ketika sosol local hero sudah tidak aktif sebagai penggerak utama komunitas.
Menjaga keberlanjutan dampak: mempertahankan dan memastikan manfaat agar tetap dirasakan oleh masyarakat merupakan bagian dari tantangan lain local hero. Keberlanjutan membutuhkan kombinasi antara pemimpin lokal, partisipasi masyarakat, jejaring dan dukungan dari berbagai pihak.
3. Menjaga Dampak Pemberdayaan
Keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak hanya terlihat dari pencapaianya terhadap target program. Local hero memastikan apakah perubahan yang dibangun mampu bertahan dan berkembang setelah dukungan awal berkurang. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat perlu menghasilkan kapasitas yang dapat terus di terapkan oleh masyarakat dan mampu menjawab kebutuhan dan tantangan dari komunitas tersebut. Harinurdin et al. (2025), melalui tinjauan sistematis mengenai kajian pemberdayaan masyarakat di Indonesia, menempatkan inovasi sebagai salah satu pendekatan yang mampu mendorong kesejahteraan secara berkelanjutan. Inovasi tersebut dapat berupa pengembangan produk, pemanfaatan teknologi, penguatan kelembagaan serta cara baru dalam membangun jejaring dan akses pasar.
Dampak pemberdayaan terasa lebih kuat ketika masyarakat tidak sebatas menjadi penerima manfaat program, melainkan memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan dan menjalankan inisitif secara mandiri. Pendampingan program yang dijalankan secara bertahap mendorong pergerseran peran dari pihak eksternal sebagai penopang utama menjadi masyarakat sebagai pengelola perubahan. Dalam kerangka pemberdayaan masyarakat pesisir, Sumarjo et al (2022) menyatakan kontribusi local hero memperkuat berbagai modal di masyarakat antara lain modal sosial, manusia, teknologi, finansial dan fisik yang mampu mendukung keberlanjutan usaha di masyarakat. Sejalan dengan jejaring horizontal maupun vertikal local hero membantu menghubungkan kebijakan dengan praktik di tingkat masyarakat (Lindsay et al., 2022).
- Membangun Kemandirian Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan menampatkan masyarakat sebagai subjek dalam perubahan. Sudut pandang tersebut menekankan keterlibatan masyarakat dalam berbagai kegiatan maupun memberikan ruang dan kesempatan dalam menentukan kebutuhan, pengambilan keputusan, mengelola sumberdaya dan mengembangkan solusi berdasarkan potensi yang dimiliki wilayah tersebut. Harinurdin et al. (2025) menunjukkan pemberdayaan melalui inovasi terbuka (open innovation) dapat menjadi strategi dalam memperkokoh pengelolaan usaha milik desa dan mendukung kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Dalam kajian pemberdayaan masyarakat dalam mengidentifikasi capacity building sebagai salah satu fokus utamanya. Penguatan kapasitas memungkinkan masyarakat mengambil peran dalam pengambilan keputusan, menciptakan solusi dan mengembangkan kemampuan dalam menghadapi tantangan secara mandiri.
- Mewujudkan Pemberdayaan Berkelanjutan
Pemberdayaan berkelanjutan secara umum diartikan sebagai proses membangun kemampuan masyarakat untuk bergerak dengan kekuatannya sendiri. Program dapat menjadi pemicu, pendamping memberikan kebutuhan dan local hero sebagai aktor penggerak. Walaupun demikian, dapat dikatakan mampu mewujudkan pemberdayaan secara berkelanjutan ketika masyarakat memiliki kapasitas, rasa memiliki, jejering dan kemampuan beradaptasi. Sejalan dengan temuan dari Abdurrahim et al. (2022), local hero sebagai agen perubahan menggerakkan masyarakat dan membangun hubungan antara komunitas dengan berbagai aktor dalam mendukung perubahan berkelanjutan.
Untuk memastikan pemberdayaan tersebut berjalan secara berkelanjutan, pemberdayaan perlu di ikuti dengan pemantauan dan evaluasi. Kusumastuti et al (2024) mengidentifikasi monitoring dan evaluasi dari transformasi perubahan sebagai salah satu elemen penting dalam program pemberdayaan yang berorientasi pada keberlanjutan. Evaluasi membantu memastikan bahwa program tidak berhenti pada pencapaian output melainkan melihat transformasinya terhadap masyarakat dan lingkungan. Kajian mengenai program pemberdayaan berkelanjutan menunjukkan bahwa pembelajaran, pengetahuan lokal dan co-creation mendukung transformasi keberlanjutan. Program yang efektif perlu menyesuaikan strategi pendekatan berbasis lokal karena tidak semua pendekatan mampu diterapkan dengan pendekatan serupa pada seluruh komunitas (Kusumastuti et al., 2024).
Pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan tidak berhenti pada keberhasilan program, melainkan melihat kemandirian masyarakat untuk melanjutkan, mengembangkan dan memiliki perubahan yang telah dibangun. Dalam proses tersebut, local hero berperan sebagai penggerak dalam menjaga partisipasi, menghubungkan masyarakat dengan berbagai pihak, memperkuat kapasitas dan mendorong perubahan dari individu menjadi gerakan bersama. Keberlanjutan yang kuat di dukung dengan kepemimpinan lokal yang mampu mendorong pada akses jejaring, regenerasi, pengetahuan dan kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perubahan. Dengan demikian, mengawal local hero tidak hanya menjaga keberlangsungan sesorang sebagai tokoh penggerak, tetapi memastikan pertumbuhan kapasitas masyarakat yang semakin mandiri. Memperkuat kapasitas individu dan komunitas menciptakan rasa memiliki yang mendukung peluang lebih besar dalam bertahan dan berkembang melampaui batas program. Saatnya menjaga dampak, menguatkan perubahan.
Referensi
Abdurrahim, A. Y., Adhuri, D. S., Ross, H., & Phelan, A. (2022). Community champions of ecosystem services: The role of local agency in protecting Indonesian coral reefs. Frontiers in Ecology and Evolution, 10, 868218.
Harinurdin, E., Laksmono, B. S., Kusumastuti, R., & Safitri, K. A. (2025). Community empowerment utilizing open innovation as a sustainable village-owned enterprise strategy in Indonesia: A systematic literature review. Sustainability, 17(8), 3394.
Kusumastuti, R., et al. (2024). Empowering communities to act for a change: A review of the community empowerment programs towards sustainability and resilience. Sustainability, 16(19), 8700.
Lindsay, S. M., et al. (2022). Community champions of ecosystem services: The role of local agency in protecting Indonesian coral reefs. Frontiers in Ecology and Evolution, 10, 868218
Septiarani, B., & Handayani, W. (2016). The role of local champion in community-based adaptation in Semarang coastal area. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 12(3), 263–276.
Sholeh, M., Mulianingsih, F., Nisa, A. N. S., Anwar, K., Rusdini, S. E., & Sasea, S. C. (2025). Local champions and community empowerment for sustainable food security: A social studies and geography education perspective in Semarang City. Journal of Cultural Analysis and Social Change, 11(1), 269–280.
Sujatmiko, S., Fadlurrahman, F., & Mukti, A. (2024). Local champions dan pemberdayaan masyarakat: Narasi dari tiga kasus pemberdayaan. JIPAGS (Journal of Indonesian Public Administration and Governance Studies), 8(2).
Sumardjo, S., Firmansyah, A., & Dharmawan, L. (2022). The role of extension and local champions in empowering coastal communities for achieving SDGs. CARE, IPB University.
Yuwono, A. I., & Putrianti, H. (2022). Peran local champion dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Balkondes Tuksongo, Wringinputih, dan Giritengah. Jurnal Destinasi Pariwisata, 10(1).