Pembangunan masyarakat kini tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab tunggal pemerintah, melainkan menjadi sebuah hasil interaksi dari berbagai aktor yang memberikan pengaruh dalam sebuah ekosistem kolaboratif. Dalam pendekatan pembangunan berbasis partisipatif, masyarakat ditempatkan sebagai subjek utama dalam menentukan keberhasilan program berdasarkan kolaborasi antar stakeholder seperti pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat, media dan komunitas lokal. Konteks tersebut menekankan peran local hero sebagai agen perubahan. Local hero dinilai memiliki legitimasi sosial yang kuat karena menduduki kepemimpinan informal serta mampu menggerakkan masyarakat dalam mengakses berbagai aktivitas sosial melalui pengetahuan, pengalaman dan kepercayaan yang dimilikinya (Westley et al., 2013).
Local hero menempatkan tokoh lokal sebagai pimpinan komunitas (community leader) sekaligus sebagai agen perubahan (change agent) sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat. Pendekatan tersebut mencakup karakter kepemimpinan, kapasitas individu dan keberhasilan dalam mobilisasi partisipasi masyarakat. Walaupun demikian, keberhasilan tersebut dalam menciptakan inisiatif pembangunan tidak cukup ditentukan berdasarkan kualitas kepemimpinan individu, melainkan kemampuan mengelola jejaring stakeholder menjadi faktor penentu keberhasilan program (Freeman, 2010).
- Local Herosebagai Stakeholder Ecosystem Hub
Konsep stakeholder yang dikenalkan oleh R. Edward Freeman, menjelaskan bahwa keberhasilan organisasi maupun program pembangunan bergantung pada kemampuan menciptakan nilai (value creation). Teori ini menegaskan bahwa setiap stakeholder memiliki sumber daya, pengaruh, kepentingan serta ekspektasi yang berbeda. Perspektif beyond leadership menunjukkan cara pandang yang berbeda melalui pergeseran fokus pertanyaan “siapa pemimpinnya?” menjadi “bagaimana seorang local hero sebagai pemimpin menghubungkan, mengoordinasikan dan menyelaraskan stakeholder yang memiliki kepentingan beragam?”. Dengan demikian, peran local hero tidak lagi menjadi pusat kekuasaan (centre of authority), melainkan sebagai pusat hubungan (relational hub).
- Pergeseran dari Kepemimpinan Individual menuju Kepemimpinan Ekosistem
Stakeholder ecosystem menjelaskan tentang berbagai persoalan sosial yang tidak hanya dilakukan organisasi atau individu secara mandiri, melainkan membutuhkan koordinasi dan kolaborasi berbagai aktor yang saling bergantung (inter dependence) dalam menciptakan nilai bersama (value co-creation) (Parmer et al., 2010). Dalam ranah local hero, tidak hanya berperan menjalankan perannya sebagai pemimpin masyarakat, melainkan juga sebagai aktor sentral yang menghubungkan dan mengelola hubungan antar-stakeholder melalui 5 fungsi connector yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha dan media demi berjalannya komunikasi yang efektif:
- Broker melakukan mediasi terhadap perbedaan kepentingan antar
- Fasilitator memberikan fasilitasi proses kolaborasi pada pihak sesuai kapasitasnya.
- Integrator menggabungkan sumberdaya seperti pendanaan, pengetahuan, teknologi dan kearifan lokal. Bentuk tersebut dicontohkan dalam pengembangan desa wisata berbasis masyarakat local hero, menghubungkan pemerintah daerah sebagai penyusun kebijakan, perguruan tinggi sebagai penyedia pendampingan, pembelajaran dan pengembangan inovasi, sedangkan pelaku usaha dapat menjadi mitra pemasaran dalam program CSR sebagai penyedia pendanaan, dan masyarakat bertugas sebagai pengelola wisata. Ketika suatu saat terdapat perbedaan kepentingan, misalnya antara peningkatan jumlah wisatawan dan pelestarian budaya lokal, local hero mampu berperan sebagai mediator untuk memperoleh kesepahaman melalui forum bersama
- Media dikelola secara optimal sebagai sarana edukasi, komunikasi dan advokasi
- Kolaborasi lintas sektor dengan seluruh pemangku kepentinga
- Local Herosebagai Pengelola Modal Sosial
Peran local hero sebagai pemimpin dan penggerak perubahan di masyarakat tidak hanya mengandalkan modal memimpin dan kewenangan formal yang dimiliki. Pentingnya memiliki modal sosial sebagai bentuk kepercayaan (trust), norma bersama, legitimasi sosial, jaringan kolaborasi dan reputasi baik di masyarakat (Putnam, 2001). Modal sosial memungkinkan local hero memperoleh dukungan dari stakeholder. Pengembangan desa wisata sebagai salah satu contoh memiliki hubungan baik dengan perguruan tinggi, pelaku usaha, dan media, serta mampu memfasilitasi pertemuan berbagai pihak dalam mengembangkan wisata, meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pelatihan, dukungan pendanaan, dan mempromosikan wisata secara meluas. Contoh tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan local hero tidak ditentukan oleh jabatan formal dalam struktur organisasi, melainkan oleh kemampuannya membangun hubungan sosial dengan stakeholder untuk mencapai pemberdayaan secara berkelanjutan.
- Hubungan dengan Matriks Power-Interest
Perspektif beyond leadership yang mengaitkan matriks power-interest (Mendelow Stakeholder Matrix) sering digunakan untuk mengelompokkan stakeholder berdasarkan 2 dimensi utama, yaitu power dan interest. Power menunjukkan kemampuan stakeholder untuk memengaruhi keputusan atau keberhasilan suatu program, sedangkan interest menunjukkan tingkat kepentingan atau perhatian stakeholder terhadap program tersebut (Mendelow, 1991). Dalam konteks pemetaan kontribusi stakeholder terhadap local hero. Sebagai contohnya, pemerintah dan tokoh adat berada pada kategori power dan interest tinggi sehingga menjadi mitra strategis yang harus dikelola intens (manage closely); akademisi memiliki interest tinggi dan berperan sebagai penyangga pengetahuan yang terus dilibatkan (keep informed); dunia usaha memiliki power tinggi namun interest relatif rendah sehingga perlu menjaga komitmen (keep satisfied). Sedangkan komunitas lokal memiliki interest tinggi sebagai partisipan masyarakat yang membutuhkan komunikasi dan pemberdayaan secara berkelanjutan.
- Kontribusi Konseptual (Novelty)
Salah satu bentuk kontribusi yang dilakukan oleh pemimpin lokal (local hero) adalah menciptakan kebaruan atau novelty. Kontribusi konseptual di sini adalah pergeseran sudut pandang dari pendekatan kepemimpinan yang berpusat pada individu (leader-centered approach) menuju pendekatan berbasis ekosistem stakeholder (stakeholder ecosystem approach). Konteks ini menjelaskan peran local hero tidak sebatas sebagai pemimpin masyarakat, melainkan penghubung utama yang mampu mengoordinir hubungan antar-stakeholder, membangun kepercayaan, menyelaraskan kepentingan dan mendorong kolaborasi dalam menciptakan tujuan pemberdayaan masyarakat. Secara konkret, dalam pengembangan desa wisata, UMKM, dan konservasi lingkungan berdasarkan konsep beyond leadership, local hero membangun komunikasi dengan pemerintah desa dalam menyelaraskan program pembangunan, meyakinkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif, menghubungkan pelaku UMKM dengan peluang pasar, menggandeng akademisi untuk memberikan pelatihan pengelolaan wisata, hingga menjalin kerja sama dengan perusahaan dalam memperoleh dukungan pendanaan melalui program CSR.
Pembangunan masyarakat di era kolaboratif menuntut perubahan cara pandang terhadap peran local hero. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak lagi ditentukan semata oleh kapasitas kepemimpinan individu, tetapi oleh kemampuan local hero membangun jejaring, menyelaraskan kepentingan, serta menggerakkan kolaborasi antar-stakeholder. Melalui perspektif Beyond Leadership, local hero diposisikan sebagai pusat ekosistem stakeholder yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat untuk menciptakan nilai bersama (value co-creation) yang berkelanjutan. Dengan memperkuat kapasitas local hero serta membangun ekosistem kolaborasi yang inklusif, kita tidak hanya menciptakan program yang berhasil, tetapi juga membangun masyarakat yang mandiri, tangguh, dan berkelanjutan.
Referensi
Freeman, R. E. (2010). Strategic management: A stakeholder approach. Cambridge university press.
Leonardi, R., Nanetti, R. Y., & Putnam, R. D. (2001). Making democracy work: Civic traditions in modern Italy (p. 89). Princeton, NJ, USA: Princeton university press.
Mendelow, A. (1991, December). Stakeholder mapping. In Proceedings of the 2nd international conference on information systems (Vol. 2). Cambridge: AL Mendelow.
Parmar, B. L., Freeman, R. E., Harrison, J. S., Wicks, A. C., Purnell, L., & De Colle, S. (2010). Stakeholder theory: The state of the art. Academy of management annals, 4(1), 403-445.
Westley, F. R., Tjornbo, O., Schultz, L., Olsson, P., Folke, C., Crona, B., & Bodin, Ö. (2013). A theory of transformative agency in linked social-ecological systems. Ecology and Society, 18(3).