Skip to main content

SSILA

From Ideas to Impact: Pendekatan Human-Centered Innovation dalam Menciptakan Dampak

Mengapa Banyak Ide Gagal Menjadi Nilai?

Ditengah perkembangan teknologi yang semakin pesat dan persaingan yang terus meningkat, setiap organisasi dituntut untuk mampu beradaptasi melalui berbagai inovasi serta membangun kolaborasi guna menciptakan peluang baru dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan.

Berbagai ide yang dikembangkan antara lain produk digital, layanan publik, serta model bisnis yang semakin kompetitif. Walaupun demikian, ide tersebut tidak cukup menjanjikan dalam menciptakan dampak nyata bagi pengguna maupun organisasi. Tidak sedikit inovasi yang gagal di pasar, tidak digunakan kembali, bahkan berhenti di tahap pengembangan. Alasannya adalah ide tersebut tidak mampu menjawab kebutuhan sesungguhnya di masyarakat.

Kegagalan tersebut sering kali hanya berfokus pada apa yang diciptakan (technology push) daripada kebutuhan dasar yang dapat dijawab melalui gagasan yang diciptakan (human needs). Akibatnya, produk dan layanan yang dihasilkan canggih, namun tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat sebagai calon pengguna. Christensen, Hall, Dillon dan Duncan (2016) menyatakan bahwa pelanggan tidak hanya menilai produk berdasarkan fitur atau teknologinya saja, melainkan juga menilai apakah produk dapat membantu pengguna menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan. Konsep tersebut dikenal sebagai Jobs to Be Done, yang artinya ide yang dapat digunakan untuk mempekerjakan produk maupun layanan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Jika kebutuhan tersebut tidak dapat mengakomodasi penggunanya, maka ide yang diciptakan kehilangan relevansinya dan berakhir begitu saja.

Nilai yang Dihasilkan dari Human-Centered Innovation

Human-centered innovation (HCI) merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengubah ide menjadi nilai yang tidak sebatas bersifat ekonomi, melainkan berdampak pada aspek sosial, emosional, dan bersifat strategis. Pendekatan ini berfokus pada penempatan manusia sebagai inti dari proses inovasi sehingga menciptakan nilai yang mampu dirasakan manfaatnya oleh pengguna, organisasi dan masyarakat luas.

  1. Nilai Bagi Pengguna

Menurut Brown (2019), inovasi yang berpusat pada manusia diawali dengan pemahaman mendalam mengenai kebutuhan, harapan dan pengalaman manusia. Dia menegaskan bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang canggih, melainkan faktor utamanya adalah kemampuan menjawab kebutuhan manusia. Salah satu bentuk dari pernyataan di atas dijelaskan oleh Norman (2013) bahwa desain yang berpusat pada manusia bertujuan menciptakan produk yang mudah dimengerti, diaplikasikan, dan memberikan pengalaman positif bagi penggunanya.

  1. Nilai Bagi Organisasi

Human-Centered Innovation bagi organisasi memberikan manfaat strategis. Pendekatan ini dinilai dapat memahami kebutuhan pelanggan, mengurangi risiko kegagalan produk, dan meningkatkan peluang keberhasilan di pasar. Vergati (2009) menjelaskan pendapatnya mengenai inovasi yang sukses tidak sebatas menghasilkan teknologi baru, melainkan memberikan nilai baru bagi penggunanya. Dalam skema organisasi, pendekatan ini mampu memberikan pemahaman terhadap konteks kehidupan dengan lebih mudah dan kompetitif. Dalam praktiknya, organisasi cenderung adaptif terhadap kebutuhan pasar karena memiliki mekanisme umpan balik berkelanjutan.

  1. Nilai Bagi Masyarakat

Melibatkan masyarakat dalam proses inovasi hingga pemecahan solusi menciptakan inklusi yang mampu menjawab kebutuhan kelompok yang beragam dan kompleks. Human Centered Innovation tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan mampu menciptakan dampak sosial secara nyata. Menurut IDEO (2015), pendekatan human-centered design dapat menjadi pengembangan solusi yang berakar pada kebutuhan komunitas sehingga menciptakan peluang untuk diterima dan dipertahankan dalam jangka panjang. IDEO menegaskan, dalam konteks pembangunan sosial, pendekatan ini mampu menciptakan inovasi yang relevan berdasarkan kondisi di masyarakat. Dalam inovasi sosial yang difokuskan pada kontribusi manusia, menempatkan masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus mitra pembangunan dalam proses inovasi.

  1. Nilai Emosional dan Psikologis

Salah satu aspek yang tidak kalah penting dalam inovasi adalah mempertimbangkan nilai emosional yang dirasakan oleh pengguna. Pendekatan human-centered innovation berupaya memahami emosi, menampung aspirasi dan mengakomodasi pengalaman manusia sehingga mampu membangun hubungan yang kokoh antara pengguna dengan produk maupun layanan yang dihasilkan.

Studi Kasus atau Contoh Penerapan Human-Centered Innovation di Indonesia

Di Indonesia sudah banyak contoh penerapan Human Centered Innovation yang hingga saat ini masih digunakan oleh masyarakat karena dianggap relevan dalam menjawab solusi yang dibutuhkan. Terdapat beberapa faktor diantaranya teknologi digital, layanan kesehatan, pendidikan dan pengembangan UMKM sebagai berikut:

  • Gojek Memahami Kebutuhan Mobilitas dan Menciptakan Ekonomi Baru

Salah satu contoh paling populer di bidang transportasi adalah Gojek. Sebelumnya, layanan online ini berkembang pesat, masyarakat dihadapkan pada kesulitan dalam mengakses mobilitas yang cepat, transparan, dan mudah diakses. Inovasi Gojek menunjukkan bahwa inovasi yang berpusat pada manusia tidak hanya menyelesaikan masalah pengguna, dampaknya meluas pada terciptanya dampak sosial dan perluasan ekonomi masyarakat melalui peluang kerja.

  • Halodoc Menyediakan Layanan Kesehatan Pasien Berbasis Online

Di bidang kesehatan hadir aplikasi Halodoc yang merespons kebutuhan pasien secara dinamis dalam memberikan layanan kesehatan secara praktis dan mudah. Seiring bertumbuhnya kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia, Halodoc menjadi solusi bagi pasien yang mengalami kendala jarak, waktu tunggu, dan keterbatasan informasi kesehatan dengan cepat dan akurat.

  • Ruangguru Menjawab Kesenjangan Akses Pendidikan

Salah satu platform layanan pembelajaran yang juga populer di kalangan pelajar ini berfokus pada kebutuhan siswa, guru dan orang tua dalam memberikan solusi pembelajaran optimal di luar sekolah. Layanan ini telah menjangkau berbagai pelosok daerah yang masih minim fasilitas pendidikannya. Layanan yang diakses melalui perangkat digital ini mengakomodasi kesulitan belajar siswa, penyesuaian kurikulum dan materi, model pembelajaran fleksibel, dan fitur-fitur interaktif berbayar berdasarkan kebutuhan pengguna. Hasilnya, akses pendidikan mampu diterapkan secara meluas dan efektif.

  • Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Digital BPJS Kesehatan

Transformasi digital dalam sektor pelayanan publik yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan merupakan bagian dari Human Centered Innovation. Platform digital berupa JKN Mobile merupakan penyelesaian masalah yang dihadapi peserta JKN, yang menghadapi antrean panjang, proses administrasi rumit, dan keterbatasan informasi layanan kesehatan yang dibutuhkan oleh pasien. Atas dasar itulah BPJS Kesehatan meluncurkan aplikasi mobile yang memberikan akses layanan kesehatan secara mandiri. Fitur-fitur yang disajikan antara lain antrean online, perubahan data peserta, kartu digital dan informasi mengenai fasilitas kesehatan terdekat yang dapat diakses oleh pengguna.

Dengan demikian, adanya inovasi sosial mampu memberikan pengalaman bagi berbagai organisasi di Indonesia yang berpusat pada kebutuhan manusia, sehingga memiliki peluang besar untuk diterima, digunakan, dan membawa nilai keberlanjutan dibandingkan dengan inovasi canggih yang hanya berfokus pada teknologi semata. Mari jadikan pemahaman terhadap kebutuhan manusia sebagai fondasi utama dalam menciptakan inovasi yang bernilai, berdampak dan berkelanjutan.

Referensi

Brown, T., & Katz, B. (2019). Change by design: How design thinking transforms organizations and inspires innovation (Vol. 20091). New York, NY: HarperBusiness.

Christensen, C. M., Hall, T., Dillon, K., & Duncan, D. S. (2018). Competing against luck: the story of innovation and customer choice. Management43(2), 121-123.

IDEO.org. (2015). The field guide to human-centered design. IDEO.org.

Norman, D. A. (2013). The design of everyday things (Revised and expanded ed.). Basic Books.

Verganti, R. (2009). Design-driven innovation: Changing the rules of competition by radically innovating what things mean. Harvard Business Press.

Bagikan artikel ini:

Artikel Terkait